Hentilah menghina atau menyindirku,
karena kau tak mengerti lelahnya diri ini dan betapa letihnya fikir ini
Ku ingin menjamah kubangan yang tiada tepinya
Atau ku coba berlari membawa keletihan diri ini beserta tangis..., tangis..., tangis...
Oh tubuhku...,
hentilah mengeluh atau meng-aduh di jiwaku,
Karena pagi belumlah jua tiba
Oh fikirku...,
Hentilah mengarut kata-kata menepi
Karena pagi belumlah jua tiba
Mungkin senja tak kan juga ada...,
Lalu tanyaku tentang purnama akan kemana, Tuhanku...?
Dikala mata-Mu menatap luka..., luka..., luka...
Dikala hati-Mu mengawal pedih..., perih..., pedih..., perih...
Dikala tubuh muda ini merasa renta..., renta..., renta...
Lindungi aku dalam diamku
Atau teriaki aku saat termanguku
Menekur...,
Berfikir...,
Menekur...,
Berfikir...,
Do'a..., dosa...,
Do'a..., dosa...
Oh..., Tuhanku...
Jakarta, 10 Juli 2005
muhammad sahid muslim
Friday, August 15, 2008
Thursday, August 14, 2008
(untitled)
Ku damba sapaan manis nan anggun
dari goresan senyuman bidadariku.
Kurindu sentuhan nan sejuk,
yang menyentuh gersang di hatiku
Bilakah semua dapat ku hampiri, atau
hanya rekaan di mimpiku saja?.
Andai cintaku berlabuh,
kuserahkan hidupku hanya untuk mencintainya...
(sahid)
dari goresan senyuman bidadariku.
Kurindu sentuhan nan sejuk,
yang menyentuh gersang di hatiku
Bilakah semua dapat ku hampiri, atau
hanya rekaan di mimpiku saja?.
Andai cintaku berlabuh,
kuserahkan hidupku hanya untuk mencintainya...
(sahid)
FURQ BEAUTIFUL
Dapatkah kamu menyaksikan kembali bunga-bunga yang tumbuh dengan cantiknya di sekitar matahari dan menjadi dirimu yang serupa dengan padanan kata-kata yang terangkai dengan indah bagai sebuah puisi?. Dan bila keindahan puisi hanyalah jelmaan hati yang mungkin berarti mimpi yang jauh mengikat bumi dalam kesemestaan ruang dan waktu, tentu bukanlah jebakan yang manja bila menyamai nada seruling di waktu pagi dan petang, di saat matahari merindukan bunga-bunga yang cantik. Namun, hanya karena mengingat petang, maka tak berarti nafas terhenti di saat itu pula atau menghilang di dalam kepekatan yang tak berarti senyap. Namun, perlu memaafkan segala yang kembali kepada keindahan.
Ku ingin mengambil sebuah keindahan pada pita-pita pelangi dan menemukan diri wanita bercermin pada kecemasan hujan, dalam memikirkan surat dalam badai atau menjadikan ombak sebuah karangan seni yang mengalir dan membentuk kerajaan pasir yang menuliskan kata-kata cinta yang tak lagi pudar dalam iringan putaran bumi dan matahari pada edarnya menjumpai detik-detik yang terkumpul di zaman waktu dalam keserasian satuan qodha' di atas kesetimbangan qadar.
Dapatkah lagi bejana yang menadah air hujan dan mengumpulkannya kembali ke awalnya sebagi gemulung awan yang bertumpuk-tumpuk dan menjadi payung raksasa yang menidurkan gersang sebagai lenguhan musim saat panen raya?.
Tentunya, keindahan telah semestinya berarti segala-gala yang berarti dalam sejagat rimba kata, maka puisi pun tak seindah seni furqan genggaman Sang Raja Arasy.
Muhammad Sahid Muslim
Jakarta, 27 April 2006
pkl. 09:19 wib
Ku ingin mengambil sebuah keindahan pada pita-pita pelangi dan menemukan diri wanita bercermin pada kecemasan hujan, dalam memikirkan surat dalam badai atau menjadikan ombak sebuah karangan seni yang mengalir dan membentuk kerajaan pasir yang menuliskan kata-kata cinta yang tak lagi pudar dalam iringan putaran bumi dan matahari pada edarnya menjumpai detik-detik yang terkumpul di zaman waktu dalam keserasian satuan qodha' di atas kesetimbangan qadar.
Dapatkah lagi bejana yang menadah air hujan dan mengumpulkannya kembali ke awalnya sebagi gemulung awan yang bertumpuk-tumpuk dan menjadi payung raksasa yang menidurkan gersang sebagai lenguhan musim saat panen raya?.
Tentunya, keindahan telah semestinya berarti segala-gala yang berarti dalam sejagat rimba kata, maka puisi pun tak seindah seni furqan genggaman Sang Raja Arasy.
Muhammad Sahid Muslim
Jakarta, 27 April 2006
pkl. 09:19 wib
(untitled)
Aku mengenang dia di hari ini. Karena itu, rasanya tepat jika aku mengabadikan karyanya di blog ini, yang dia buat untukku. Satu yang tertinggal dari banyak hal yang indah tentangnya. ijinkan aku menuliskannya di sini...
Aku telah menyusuri taman yang sunyi bersama bayangmu
Hidup dalam sepi dan kerinduan
Menggantungkan angan cinta di sudut malam dingin
Membentang jarak, membunuh asa
Menenggelamkan semua pesonamu,
Agar aku dapat menghilangkan sesuatu yang berpijar di ruang mata kelammu
Agar gemuruh dalam dada sirna bersama keheningan malam
Anehnya...,
Keinginan untuk memilikimu sedemikian menjadi
Aku telah melantunkan kesedihan jiwa
Meruntuhkan tembok kasihmu yang mulai tumbuh di puri hatiku
Menghilangkan keinginan untuk menerima hembusan ketulusanmu ke paru-paru cintaku
Menepis bias kasihmu di tiap kali ku memandangmu
Namun sekarang aku tahu,
Rasanya...,
Aku mulai menyayangimu....
-INTAN.P-
makassar, September 1999
... ... Intan,dimanakah kau kini? ... ...
Aku telah menyusuri taman yang sunyi bersama bayangmu
Hidup dalam sepi dan kerinduan
Menggantungkan angan cinta di sudut malam dingin
Membentang jarak, membunuh asa
Menenggelamkan semua pesonamu,
Agar aku dapat menghilangkan sesuatu yang berpijar di ruang mata kelammu
Agar gemuruh dalam dada sirna bersama keheningan malam
Anehnya...,
Keinginan untuk memilikimu sedemikian menjadi
Aku telah melantunkan kesedihan jiwa
Meruntuhkan tembok kasihmu yang mulai tumbuh di puri hatiku
Menghilangkan keinginan untuk menerima hembusan ketulusanmu ke paru-paru cintaku
Menepis bias kasihmu di tiap kali ku memandangmu
Namun sekarang aku tahu,
Rasanya...,
Aku mulai menyayangimu....
-INTAN.P-
makassar, September 1999
... ... Intan,dimanakah kau kini? ... ...
ADAM
ADAM
Apa yang kamu dapati dari tangisan?. Tanyakanlah dari hatimu yang riak. Di saat bulan berada jauh di atas kepala kita, tapi kenapa tak bertanya?. Adakah kamu merasa senang jika mendung telah datang?. Sangat wajar jika kamu senang, karena kamu berduka..., dan dukamu ditemani mendung yang menghantar. Tapi tatkala usai, dan bulan berada diantaramu, kamu tak bertanya...
Ada apa lagi dengan tangisanmu?. Maka sangat patut kamu mengikuti kemana sungai mengalir membawa kisah-kisah makam dan sampah-sampah hati.
Dahaga ini yang terasa, ingin dicampakkan dan tak ingin lepas. Aku ingin ditammatkan dengan ini, dan dihidupkan kembali di tengah anak-anak domba yang disemayamkan pada kekeringan jerami yang membakar otak mudaku. Aku ingin mengadu pada Sang Nasib. Menanyakan kisah asal-usul segala penciptaan dan penentuan. Di tempat dimana aku awal ada dan tiada. Tuk ku serahkan tanya ini tentang nirwana-Mu yang tak kugapai. Namun Tuhan tak memurkai dosa kami, dalam ucapannya, " Dan bila kau hendak ke bumi, sampaikanlah tiada dunia lebih fana dari hatimu yang pedih. Yang kan dipersembahkan di ujung pedang gurun-gurun muda yang kilaunya memancarkan darah pengorbanan seekor elang, yang gemanya tak lagi ditemui di penghujung harimu. Ketika kaki-kaki letihmu menapak anak-anak tangga di sela-sela sayap-sayap malaikat yang kau rangkul. Berucaplah, inikah dunia untukku?, tempat kau tiada mengenal-Ku. Tempat kau ingkari janji di rahim dunia yang bertutur pada ruh-Ku. Tempat kau tiada mendapati rimbun pepohonan kala kau mau memohon. Tempat dimana kau bangun istana jahiliah bagi Tuhan-Tuhan manusiamu".
Di hari ini tiada lagi tangisan, karena mata ini telah dibutakan. Di hari ini tiada lagi penyesalan, karena hati ini tak tahu benar atau salah dan jauh dari wahyu-Mu. di hari ini tiada lagi dustaku, karena lisanku tak ingin bertutur hingga tiada lagi bijak yang tertutupi. Biarlah mengalir mengikuti larik-larik pelangi zaman. Biarlah menjadi indah bagai taman surgawiku.
Wahai wanita pendampingku, tampaknya surga tak berkenan lagi karena dosa yang kita gali dari buah pengkhianatanku diciptakan. Mari besertaku mengunjungi dunia yang tiada jauh dari sini, karena ku telah malu kepada-Nya. Meski peristiwa ini abadi, ukirlah dunia kita di atas asma-Nya dan keagungan-Nya. Tempat dimana bahagia selamanya ada bila kita usahakan. Amin...
Jakarta, 05 April 2005 M / 26 Safar 1426 H
Apa yang kamu dapati dari tangisan?. Tanyakanlah dari hatimu yang riak. Di saat bulan berada jauh di atas kepala kita, tapi kenapa tak bertanya?. Adakah kamu merasa senang jika mendung telah datang?. Sangat wajar jika kamu senang, karena kamu berduka..., dan dukamu ditemani mendung yang menghantar. Tapi tatkala usai, dan bulan berada diantaramu, kamu tak bertanya...
Ada apa lagi dengan tangisanmu?. Maka sangat patut kamu mengikuti kemana sungai mengalir membawa kisah-kisah makam dan sampah-sampah hati.
Dahaga ini yang terasa, ingin dicampakkan dan tak ingin lepas. Aku ingin ditammatkan dengan ini, dan dihidupkan kembali di tengah anak-anak domba yang disemayamkan pada kekeringan jerami yang membakar otak mudaku. Aku ingin mengadu pada Sang Nasib. Menanyakan kisah asal-usul segala penciptaan dan penentuan. Di tempat dimana aku awal ada dan tiada. Tuk ku serahkan tanya ini tentang nirwana-Mu yang tak kugapai. Namun Tuhan tak memurkai dosa kami, dalam ucapannya, " Dan bila kau hendak ke bumi, sampaikanlah tiada dunia lebih fana dari hatimu yang pedih. Yang kan dipersembahkan di ujung pedang gurun-gurun muda yang kilaunya memancarkan darah pengorbanan seekor elang, yang gemanya tak lagi ditemui di penghujung harimu. Ketika kaki-kaki letihmu menapak anak-anak tangga di sela-sela sayap-sayap malaikat yang kau rangkul. Berucaplah, inikah dunia untukku?, tempat kau tiada mengenal-Ku. Tempat kau ingkari janji di rahim dunia yang bertutur pada ruh-Ku. Tempat kau tiada mendapati rimbun pepohonan kala kau mau memohon. Tempat dimana kau bangun istana jahiliah bagi Tuhan-Tuhan manusiamu".
Di hari ini tiada lagi tangisan, karena mata ini telah dibutakan. Di hari ini tiada lagi penyesalan, karena hati ini tak tahu benar atau salah dan jauh dari wahyu-Mu. di hari ini tiada lagi dustaku, karena lisanku tak ingin bertutur hingga tiada lagi bijak yang tertutupi. Biarlah mengalir mengikuti larik-larik pelangi zaman. Biarlah menjadi indah bagai taman surgawiku.
Wahai wanita pendampingku, tampaknya surga tak berkenan lagi karena dosa yang kita gali dari buah pengkhianatanku diciptakan. Mari besertaku mengunjungi dunia yang tiada jauh dari sini, karena ku telah malu kepada-Nya. Meski peristiwa ini abadi, ukirlah dunia kita di atas asma-Nya dan keagungan-Nya. Tempat dimana bahagia selamanya ada bila kita usahakan. Amin...
Jakarta, 05 April 2005 M / 26 Safar 1426 H
BARA API PAGI
Terkadang tanpa kita ketahui janji kita pernah melukai hati seseorang. Inilah gambaran kekesalan seorang manusia akan janji-janji kosong yang tak tak tertunaikan dan yang terlupakan, yang saya coba gambarkan ke dalam puisi berikut.
BARA API PAGI
Di sela terusik lelap
Elakkan lisan torehkan sumbang-sumbang kepalsuan serta kesengajaan
Datang...,
Kegerhanaan menjadi pikuk yang menajamkan kesal
Ku mengupah janjimu dalam tertawamu
Dan beranjak ketika lelap yang kau nilai dengan judi atau cuma-cuma
Persamaan bunyi itu,
Itulah birama yang jauhkan gerhana
Padanan dirupa, perulangan ditegaskan.
Jemu...
Kemasi dalam meragu dan dalam kepahaman menoda ejekan laku
Pilar bahagia dijajakan semu. Tiada kesejatian, yang itu titik nisbi alibimu
Genderang pagi ini. Panjiku mengawali arakan ke gerbang subuh
Kuharapkan nilai dan ku bukakan mata.
Jakarta, 22 Nopember 2006 M
pkl. 03:56
Muhammad Sahid Muslim
BARA API PAGI
Di sela terusik lelap
Elakkan lisan torehkan sumbang-sumbang kepalsuan serta kesengajaan
Datang...,
Kegerhanaan menjadi pikuk yang menajamkan kesal
Ku mengupah janjimu dalam tertawamu
Dan beranjak ketika lelap yang kau nilai dengan judi atau cuma-cuma
Persamaan bunyi itu,
Itulah birama yang jauhkan gerhana
Padanan dirupa, perulangan ditegaskan.
Jemu...
Kemasi dalam meragu dan dalam kepahaman menoda ejekan laku
Pilar bahagia dijajakan semu. Tiada kesejatian, yang itu titik nisbi alibimu
Genderang pagi ini. Panjiku mengawali arakan ke gerbang subuh
Kuharapkan nilai dan ku bukakan mata.
Jakarta, 22 Nopember 2006 M
pkl. 03:56
Muhammad Sahid Muslim
" -Nya "

puisi-prosa berikut berkisah tentang kesempurnaan sang Maha Pencipta
" -Nya "
Setiap yang terangkum, telah menjadi nafas yang terhembus. Adalah sejarah yang ketika tertulis, memutar roda-roda yang hidup kepada yang mati, yang lahir kepada yang kembali. kisaran dalam fikir manusia hanya makna yang diam dari langit hingga ke bumi. Kuasa-Nya luas pada rahasia hati lagi penjagaan-Nya yang tiada terlupa.
Inilah kesempurnaan, dan segalanya adalah jua milik-Nya.
Setiap yang terserak, telah menjadi nadi yang berdetak. adalah sebuah untaian kata, yang ketika terucap, seperti sebuah perahu kertas di atas permukaan anak-anak sungai dan membawanya kepada perjalanan hidup yang bercerita dan menjadi sejarah yang berserakan. Adalah Dia yang mengumpulkan dari keberserakannya itu dan menyatukannya ke dalam kitab keabadian hidup, sementara hidup terus berdetak dan terserak.
ini adalah kesempurnaan, dan segalanya adalah jua milik-Nya.
Setiap yang tertutupi, telah menjadi rahasia yang tak terungkap. Adalah kebenaran telah menjadi ruang yang bercahaya dan bergema di sendi-sendi hidup, seperti nyanyian yang tak bersuara dan musik yang diam. Adapun hal yang tersembunyi adalah kebenaran yang masih diam dan belum berbicara. Dia-lah yang Maha Mengetahui.
Inilah kesempurnaan, dan segalanya adalah jua milik-Nya.
M. Sahid. M
JAkarta, 10 April 2006 M / 12 Rabiul awal 1427 H (Maulid Nabi Muhammad saw)
Subscribe to:
Posts (Atom)